Selasa, 18 Juni 2013

Catatan hati seorang yang rendah diri

Meskipun tidak sempurna, sesempurna harapan semua orang dan harapanku pribadi... Minimal.. Dia baik... Tau syariat agama (sholehah)... Sayang sama ibu, bapak, dan adek2ku.. dan menerima aku apa adanya. InsyaAllah.. Aku memilihnya...

Aku ini... Telah terlarut dalam cinta,, Banyak cinta.. Sehingga ketika tiba pada suatu titik penentuan, aku jadi bingung sendiri memutuskannya.
Aku tak ingin pacaran.. Itu prinsip yang aku emban sejak kelas 2 SMA dahulu, 5 tahun yang lalu. Namun aku tak jua urung untuk meninggalkannya.
Satu hal yang aku tau... Aku berjanji pada diri sendiri, pada Allah, dan pada lingkungan sekitarku, lingkungan bergaulku yaitu teman - teman Ikhwah.
Selain itu, aku juga ingin membuktikan janjiNya untuk memberikan kebahagiaan yang tiada tara jika aku sanggup bertahan dan lebih memilih pacaran setelah menikah.
Aku yakin, dibalik sesuatu yang sulit, pasti ada yang manis.
Dilain hal, alasanku untuk tidak pacaran adalah aku rendah diri, tidak pantas dengan siapapun karena status sosial keluargaku yang masih pas - pas an. Bapakku hanyalah guru SMA dan ibuku asisten apoteker, pendidikannya hanyalah SMF.
Dan aku dalam hal ini masih berjuang untuk mengentaskan status sosial keluargaku ini.

Aku hanyalah lumpur yang rendah tak berharga.
Terinjak - injak walau mutiara ada dibalikkya, tak ketara.
Aku hanyalah lumpur yang tak bernilai,
yang terhempas air comberan lalu hilang, mati.
Aku hanya mendambakan RahmanNya dan RahimNya.
yang jikalau aku tunduk padaNya, mengikuti petunjukNya.
Dia akan mengubah lumpur ini menjadi patung - patung yang bernilai tinggi.
Yang dikagumi, yang dicintai, dan disimpan pada barang - barang berharga milik empunya.

Aku hanyalah binatang jalang
yang mendambakan daging yang lezat di nampan sang tuan.
Aku ini hanyalah binatang jalang
yang mengejar rembulan dan berharap untuk dapat sedikit mengigitnya karena kelaparan.
Namun aku tak akan menyerah dengan mempiku
Namun aku tak mau kalah dengan menyerah
Aku ingin meraihnya, setapak demi setapak.
Meski tak tau kapan aku akan meraihnya.
Hanyalah keyakinan yang menguatkan aku.
Hanyalah semangat yang mendorongku untuk meraihnya.
Mimpi, meski berat, namun bukanlah hayalan, namun hanyalah kenyataan yang tertunda...
(hanyalah usaha yang dapat mendekatkan kita pada mimpi - mimpi kita)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar