Aku masih belum dapat melupakannya. Meskipun aku mencoba sekuat tenaga tuk melupakannya, karena aku mersasa tak pantas untuknya. Tak pantas dan tidak siap mental jika harus bersanding dengannya. Dia begitu misterius bagiku. Begitu berharga, sampai2 aku sendiri enggan untuk berkata, lidahku seakan kaku dihadapnya. Dialah seorang gadis yang sungguh, aku suka.
Perasaan ini dimulai ketika aku harus menuruti permintaan teman - temanku, dan juga adek2 mantan organisasiku di SMA. Aku merasa exited banget!! Hal ini adalah pengalamanku membagi ilmuku secara formal, ilmu manajemen, pada anak SMA, dimana mereka adalah adek2 organisasiku di SMA, PRADA.
Tidak ada persiapan khusus untuk menyiapkan materi yang harus aku sampaikan, karena aku telah mendapatkan inti - inti materi dan goal yang akan dicapai adek2 nanti setelah materi dariku. Aku menyampaikan manajemen waktu, motivasi diri, dan lain. Lalu aku meminta mereka untuk menuliskan kesan - kesan tentang penyampaian materiku. Tidak ada yang menarik dari komentar mereka, namun, ada yang menarik dari penyampaian mereka dan individu mereka. Entah mengapa, aku tertarik pada anak itu.
Dia tidak begitu tinggi, dengan jilbab yang lumayan lebar dan lucu, seperti yang biasa dipakai bu Mardiyah, guru Bahasa Indonesiaku dulu ketika SMA, guru yang sangat menginspirasiku. Meskipun dia cantik, namun bukan kecantikannya yang menarik untukku. Hanyalah jilbabnya yang lebar yang mampu meretakkan hati yang membatu ini. Aku secara tersembunyi mencari tau namanya, berusaha tidak sefrontal dan semencurigakan mungkin. Dan melalui 2 sampai 3 rangkaian acara, aku mulai tahu namanya, ****.
Aku tidak dapat menyebutkan namanya sekarang kawan, aku takut dia nanti malah menjauh dariku, aku tak ingin. Biarlah, nanti ketika dia tahu, tahu akan perasaanku padanya, dimana dia berbicara, dan aku menyimaknya secara langsung, aku akan menyampaikan pada kalian, dan mengganti bintang-bintang diatas itu. Yang jelas, dia adalah seorang gadis belia yang dapat membuatku galau, telah dapat membuatku benar - benar jatuh hati, suatu hal yang langka, yang jarang aku alami. ****lah yang mempu melakukannya kali ini.
Sebenarnya, perasaan itu tidaklah muncul secara tiba - tiba, karena, ketahuilah kawan, aku sangat selektif dan tidak mau sembarangan mencintai seseorang gadis. Hal ini, perasaan cinta ini, justru hadir jauh setelah acara itu selesai. Sekitar 3 s/d 5 bulan atau lebih, aku tidak begitu ingat. Sebelumnya, aku hanya dapat memikirkannya, hanyalah mengagumi. Itu saja, tidak lebih. Hingga sebuah kesempatan bagiku untuk lebih dekat dengannya ada.
Hal ini terjadi, ketika aku menginap di Hotel Grand Palace Surabaya bersama Pak De yang sedang ada tugas untuk memberi pelatihan pada sebuah organisasi, yang aku gak tau. Aku hanya diminya oleh beliau menemani. Pada sore hari menjelang malam, di hotel itu, ketika aku membaca dan meresume buku Akuntansi Biaya, tiba - tiba salahsatu adik organisasiku di Smada Amanda sms, mengenai kehadiran di salah satu acara, mungkin halal bihalal, disitu ia menulis contatc person yaitu no nya dan nomor dia, ****. Pada awalnya, aku ragu untuk membalas, meskipun aku senang karena kesempatanku untuk mengenal **** lebih jauh ada. Akhirnya, setelah berpikir beberapa saat, aku memutuskan untuk membalas kedua nomor di contatc person itu, agar tidak mencurigakan.
Ada respond pada keduanya, pasti. Kemudian aku lebih membalas panjang lebar pada ****. Aku bercerita mengenai cuplikan Novel Karya Andrea Hirata, Padang Bulan-Cinta dalam Gelas, mengenai ulang tahun. Sejak saat itu, aku lebih nyambung berinteraksi dengannya berkaitan dengan novel Andrea ini. Sejak saat itu, aku mulai sering berkomunikasi melalui sms dengannya. Mengenai apapun, dan sampai sekarang, smsnya masih aku simpan di memory ponselku. Sungguh, bukan karena aku geje namun lebih karena aku jarang mengalami perasaan seperti ini. Sejak saat itu, sejak saat mulai kenal dia, aku mulai cerewet dan terbuka banget dengan dia, aku mulai suka bercerita mengenai apapun, pengalamanku, kepadanya.
Sebenarnya, hal yang sangat crusial dimana aku jatuh cinta dengannya adalah ketika aku secara tidak sengaja membuka blognya. Tulisannya bagus, dan disitu aku membaca, bahwa dia ingin untuk menjadi pengusaha. Hal ini menguatkanku, bahwa aku harus melupakan harapanku untuk dapat mempunyai istri yang mempunyai keahlian dibidang kesehatan seperti ibuku, karena hal ini mungkin hanyalah sebuah angan - angan yang tidak selalu dan harus aku penuhi, karena pasangan hidup telah ditentukan olehNya, karenanya aku hanya dapat berusaha semampuku, tidak strict dan lebih fleksibel menerima siapa saja nanti yang akan menjadi pasangan hidupku. Mungkin memang masih terlalu jauh, namun tidak ada salahnya jikalau harus dipikirkan sekarang. Mulai saat itu, aku mulai tertarik padanya, karena ia nanti dapat melengkapiku di rumah untuk berwirausaha. Namun, setelah aku meneguhkan hatiku, aku begitu kaget sekaligus bersyukur, seolah dia mau untuk menjadi pendampingku, ketika dia mengutarakan, bahwa adia ingin menjadi seorang dokter, dokter specilist anak.
Pemaparannya dan tercengangnya diriku ini terjadi ketika aku mengambil buku novel Andrea Hirata di rumahnya. Seingatku, aku mempunyai 3 agenda pada hari itu. Ke rumah Inggrid untuk silaturahmi sambil kasih oleh - oleh (karena aku baru dari jogja), ke rumah **** untuk ambil novel, dan ke rumah nenekku yang juga menjadi guruku di SMA dulu. Pada awalnya, ketika kutanyakan rumahnya mana, dia terus mengelak, menanyakan alasanku kerumahnya karena seharusnya tanggung jawabnyalah mengembalikan novel. Lalu, aku jelaskan bahwa aku mempunyai agenda itu, dan sekalian ke rumahnya sebentar, untuk mengambil novel. Dia lalu setuju, dan memberikan alamat rumahnya. Setelah aku dari rumah inggrid, aku benar - benar kerumahnya, mencari ruhahnya. Memang benar, rumahnya ada minimarketnya, keren batinku, lalu aku tercengang ketika aku melihat plang tidak jauh dariku, ada dokter spesialis jantung yang praktek disini! Aku melihat kembali ponselku, memastikan apakah benar ini rumahnya, dan benar. Tiba - tiba, aku jadi merinding, aku beli minum di minimarketnya untuk menghilangkan nervous. Lalu, dia muncul dari dalam, sebuah gang atau lebih tepatnya lorong atau apalah itu. Dia bawa novel yang dia pinjam, lalu aku ngobrol bentar dan kasih oleh - oleh pada dia, kalung yang bentuknya pohon. Lalu, beberapa hari kemudian, aku menanyakan padanya ingin jadi entreprenur atau dokter dia sebenarnya, dia jawab keduanya dokter sekaligus entrepreneur.
Sebenarnya, setelah aku dari rumah neneku, aku ke SSC bentar. Niatnya memang untuk bertemu dengannya. Sekalian bertemu guru - guruku dulu. :) Kemudian aku sms dia, dan aku lihat pancaran senang dan antusias di wajahnya ketika melihatku. Aku terpaku ketika melihat senyumannya. Aku ingin susul dia, namun aku juga tak dapat meninggalkan reunianku dengan guru - guru dan staff SSC yang begitu dekat denganku. :) sebuah hari yang indah. Hari itu takkan ku lupa.
Setelah itu, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. 1 kali pun. Komunikasi kami hanyalah dengan SMS! dan sesekali dengan media sosial. Lama sekali memang. Lamaaaaa.. aku tidak bertemu dengannya. Aku hanya dapat melihat fotonya di media sosial, untuk melepas kerinduanku. Memang, aku juga jarang pulang ke kampung halaman. Pun, jika aku pulang, aku juga melepas rindu dengan orang tuaku, dan jikalau aku ada waktu, alasan apa yang akan aku buat untuk bertemu dengannya? ada ide? Ya. Lama sekali. Dan aku begitu rindu. Pernah aku mencoba meneleponnya, namun ternyata no ponsel yang biasa digunakannya rusak. Dan untungnya aku masih punya no ponselnya yang lain. Untung saja. Mencari momentum, dan meminta izin untuk meneponnya pun tidak mudah, memang aku jarang menanyakan, karena pulsaku terbatas tentunya, (apalagi tanggal tua xp). Selain itu, mengumpulkan segala kekuatan untuk siap meneleponnya tu tudaklah mudah. Perlu puasa 1 hari 1 malam! #becanda. Yah, pokoknya tidak mudah. Dan ketika aku siap, aku tanyakan padanya, "dek, aku boleh nelfon?" "Jangan dulu deh kak, udah malam, gak enak sama yang lain" ya... Gitu deh. Persiapanku berjam - jam mengumpulkan energi dan segala sesuatunya seakan menguap begitu saja. ya gimana lagi, aku ya mau gak mau berkata "oh, yasudah, gpp.. :)"
Ya, pernah, untuk kesekian lama, aku tidak sms ataupun hubungi dia. Selain fokusku berbeda, lebih untuk kerjaan, aku juga galau, ketika eyang temenku mengatakan " Kalau kamu bukan dokter, jangan sekali - kali berniat untuk menikahi seorang cewek dokter, makan makan hati" dan segala penjelasannya yang bak sudah makan asam manis kehidupan, aku cuma manggut - manggut. Untuk beberapa lama, aku justru penasaran. Memangnya bagaimana dokter itu sebenarnya? Setelah aku mengumpulkan bermacan responden yang mau bercerita mengenai pengalamannya, baik itu yang istrinya dokter namun ia bukan dokter, yang ibunya dokter, teman yang lagi kuliah dokter, dll. Aku mendapatkan bermacam pencerahan, pesannya adalah "ya semua itu tergantung orangnya". "Kalo muslimah, pasti masih memikirkan keluarganya"
Sejak saat itu aku mulai hubungi **** lagi. Berharap silaturahmi dan komunikasi kami terjalin kembali. Namun, gaya smsnya ke aku jadi berbeda. Aku juga gak tau mengapa. Pkirku karena dia terlau fokus pada ujiannya test nya, namun hal ini brangsur - angsur sampai dengan sekarang. Aku penasaran. Seingatku, gaya SMSnya ini berubah ketika ia bilang kepadaku, dia sedang jatuh cinta. Ada sedikit perasaan cemburu pada saat itu. Lalu, aku tanyakan, siapakah orang itu? Pertanyaanku menyasar padanya sampai dengan mengerucut kepada angkatanku ketika kami membagi ilmu di acara leadership ketika pertama kali kami bertemu (atau aku aja ya yang ngerasa bertemu dengannya waktu itu?). Dan, sebenarnya siapakah dia? Dan entah karena ini yang terbaik baginya atau aku dalam keadaan cemburu, aku hanya memberikan pesan untuknya. Kira - kira seperti ini "hahahaha.. ^-^ Iya, tapi kalo suka jangan berlebihan aja. Biasa - biasa aja. Kalo bisa jangan pacaran. Di usiamu yang labil ini, setan gampang mempengaruhi. Memang, menahan rasa itu memang susah. Dulu aku juga gitu, sampai sekarang, nahan rasa itu dan tidak mengungkapkan itu butuh perjuangan. Tapi, itulah yang sebenarnya Allah nilai dari kita. Kesabaran." Sejak saat itu, aku mulai merasa gaya smsnya berubah padaku. -_- Ya, dibilang bete sih bete, namun aku begitu mencintainya sekarang ini. Aku cinta dia. Aku cinta dia. Aku cinta dia! Aku CINTA DIA!!!! AKU CINTA DIA!!!! AKU CINTA DIAAAAAAAAAAA!!!!! Aku cinta kamu ****... Gak ada di dunia yang mampu mengungkapkan besarnya cintaku kepadamu. Jika dengan memberikan cincin di jari manismu sudah cukup, akan aku lakukan sepenuh hati. Aku ingin engkau menjadi Pendmping hidupku. Menjadi istri. Menjadi ibu dari anak - anakku. Dan kita nanti hidup bersama mengarungi samudera kehidupan. Saling menguatkan terhadap cobaan yang menguji. Aku cinta kamu ****, dan jikalau kamu tau, aku sedang berjuang. Berjuang untuk menahan rasa ini sampai tiba saatnya aku mengungkapkannya kepadamu. Di pelaminan, yang menyatukan hati kita, yang menyatukan keluarga kita. Berjuang untuk memperoleh surga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Amin.. Hanyalah dia... A**Y
Sebenarnya, perasaan itu tidaklah muncul secara tiba - tiba, karena, ketahuilah kawan, aku sangat selektif dan tidak mau sembarangan mencintai seseorang gadis. Hal ini, perasaan cinta ini, justru hadir jauh setelah acara itu selesai. Sekitar 3 s/d 5 bulan atau lebih, aku tidak begitu ingat. Sebelumnya, aku hanya dapat memikirkannya, hanyalah mengagumi. Itu saja, tidak lebih. Hingga sebuah kesempatan bagiku untuk lebih dekat dengannya ada.
Hal ini terjadi, ketika aku menginap di Hotel Grand Palace Surabaya bersama Pak De yang sedang ada tugas untuk memberi pelatihan pada sebuah organisasi, yang aku gak tau. Aku hanya diminya oleh beliau menemani. Pada sore hari menjelang malam, di hotel itu, ketika aku membaca dan meresume buku Akuntansi Biaya, tiba - tiba salahsatu adik organisasiku di Smada Amanda sms, mengenai kehadiran di salah satu acara, mungkin halal bihalal, disitu ia menulis contatc person yaitu no nya dan nomor dia, ****. Pada awalnya, aku ragu untuk membalas, meskipun aku senang karena kesempatanku untuk mengenal **** lebih jauh ada. Akhirnya, setelah berpikir beberapa saat, aku memutuskan untuk membalas kedua nomor di contatc person itu, agar tidak mencurigakan.
Ada respond pada keduanya, pasti. Kemudian aku lebih membalas panjang lebar pada ****. Aku bercerita mengenai cuplikan Novel Karya Andrea Hirata, Padang Bulan-Cinta dalam Gelas, mengenai ulang tahun. Sejak saat itu, aku lebih nyambung berinteraksi dengannya berkaitan dengan novel Andrea ini. Sejak saat itu, aku mulai sering berkomunikasi melalui sms dengannya. Mengenai apapun, dan sampai sekarang, smsnya masih aku simpan di memory ponselku. Sungguh, bukan karena aku geje namun lebih karena aku jarang mengalami perasaan seperti ini. Sejak saat itu, sejak saat mulai kenal dia, aku mulai cerewet dan terbuka banget dengan dia, aku mulai suka bercerita mengenai apapun, pengalamanku, kepadanya.
Sebenarnya, hal yang sangat crusial dimana aku jatuh cinta dengannya adalah ketika aku secara tidak sengaja membuka blognya. Tulisannya bagus, dan disitu aku membaca, bahwa dia ingin untuk menjadi pengusaha. Hal ini menguatkanku, bahwa aku harus melupakan harapanku untuk dapat mempunyai istri yang mempunyai keahlian dibidang kesehatan seperti ibuku, karena hal ini mungkin hanyalah sebuah angan - angan yang tidak selalu dan harus aku penuhi, karena pasangan hidup telah ditentukan olehNya, karenanya aku hanya dapat berusaha semampuku, tidak strict dan lebih fleksibel menerima siapa saja nanti yang akan menjadi pasangan hidupku. Mungkin memang masih terlalu jauh, namun tidak ada salahnya jikalau harus dipikirkan sekarang. Mulai saat itu, aku mulai tertarik padanya, karena ia nanti dapat melengkapiku di rumah untuk berwirausaha. Namun, setelah aku meneguhkan hatiku, aku begitu kaget sekaligus bersyukur, seolah dia mau untuk menjadi pendampingku, ketika dia mengutarakan, bahwa adia ingin menjadi seorang dokter, dokter specilist anak.
Pemaparannya dan tercengangnya diriku ini terjadi ketika aku mengambil buku novel Andrea Hirata di rumahnya. Seingatku, aku mempunyai 3 agenda pada hari itu. Ke rumah Inggrid untuk silaturahmi sambil kasih oleh - oleh (karena aku baru dari jogja), ke rumah **** untuk ambil novel, dan ke rumah nenekku yang juga menjadi guruku di SMA dulu. Pada awalnya, ketika kutanyakan rumahnya mana, dia terus mengelak, menanyakan alasanku kerumahnya karena seharusnya tanggung jawabnyalah mengembalikan novel. Lalu, aku jelaskan bahwa aku mempunyai agenda itu, dan sekalian ke rumahnya sebentar, untuk mengambil novel. Dia lalu setuju, dan memberikan alamat rumahnya. Setelah aku dari rumah inggrid, aku benar - benar kerumahnya, mencari ruhahnya. Memang benar, rumahnya ada minimarketnya, keren batinku, lalu aku tercengang ketika aku melihat plang tidak jauh dariku, ada dokter spesialis jantung yang praktek disini! Aku melihat kembali ponselku, memastikan apakah benar ini rumahnya, dan benar. Tiba - tiba, aku jadi merinding, aku beli minum di minimarketnya untuk menghilangkan nervous. Lalu, dia muncul dari dalam, sebuah gang atau lebih tepatnya lorong atau apalah itu. Dia bawa novel yang dia pinjam, lalu aku ngobrol bentar dan kasih oleh - oleh pada dia, kalung yang bentuknya pohon. Lalu, beberapa hari kemudian, aku menanyakan padanya ingin jadi entreprenur atau dokter dia sebenarnya, dia jawab keduanya dokter sekaligus entrepreneur.
Sebenarnya, setelah aku dari rumah neneku, aku ke SSC bentar. Niatnya memang untuk bertemu dengannya. Sekalian bertemu guru - guruku dulu. :) Kemudian aku sms dia, dan aku lihat pancaran senang dan antusias di wajahnya ketika melihatku. Aku terpaku ketika melihat senyumannya. Aku ingin susul dia, namun aku juga tak dapat meninggalkan reunianku dengan guru - guru dan staff SSC yang begitu dekat denganku. :) sebuah hari yang indah. Hari itu takkan ku lupa.
Setelah itu, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. 1 kali pun. Komunikasi kami hanyalah dengan SMS! dan sesekali dengan media sosial. Lama sekali memang. Lamaaaaa.. aku tidak bertemu dengannya. Aku hanya dapat melihat fotonya di media sosial, untuk melepas kerinduanku. Memang, aku juga jarang pulang ke kampung halaman. Pun, jika aku pulang, aku juga melepas rindu dengan orang tuaku, dan jikalau aku ada waktu, alasan apa yang akan aku buat untuk bertemu dengannya? ada ide? Ya. Lama sekali. Dan aku begitu rindu. Pernah aku mencoba meneleponnya, namun ternyata no ponsel yang biasa digunakannya rusak. Dan untungnya aku masih punya no ponselnya yang lain. Untung saja. Mencari momentum, dan meminta izin untuk meneponnya pun tidak mudah, memang aku jarang menanyakan, karena pulsaku terbatas tentunya, (apalagi tanggal tua xp). Selain itu, mengumpulkan segala kekuatan untuk siap meneleponnya tu tudaklah mudah. Perlu puasa 1 hari 1 malam! #becanda. Yah, pokoknya tidak mudah. Dan ketika aku siap, aku tanyakan padanya, "dek, aku boleh nelfon?" "Jangan dulu deh kak, udah malam, gak enak sama yang lain" ya... Gitu deh. Persiapanku berjam - jam mengumpulkan energi dan segala sesuatunya seakan menguap begitu saja. ya gimana lagi, aku ya mau gak mau berkata "oh, yasudah, gpp.. :)"
Ya, pernah, untuk kesekian lama, aku tidak sms ataupun hubungi dia. Selain fokusku berbeda, lebih untuk kerjaan, aku juga galau, ketika eyang temenku mengatakan " Kalau kamu bukan dokter, jangan sekali - kali berniat untuk menikahi seorang cewek dokter, makan makan hati" dan segala penjelasannya yang bak sudah makan asam manis kehidupan, aku cuma manggut - manggut. Untuk beberapa lama, aku justru penasaran. Memangnya bagaimana dokter itu sebenarnya? Setelah aku mengumpulkan bermacan responden yang mau bercerita mengenai pengalamannya, baik itu yang istrinya dokter namun ia bukan dokter, yang ibunya dokter, teman yang lagi kuliah dokter, dll. Aku mendapatkan bermacam pencerahan, pesannya adalah "ya semua itu tergantung orangnya". "Kalo muslimah, pasti masih memikirkan keluarganya"
Sejak saat itu aku mulai hubungi **** lagi. Berharap silaturahmi dan komunikasi kami terjalin kembali. Namun, gaya smsnya ke aku jadi berbeda. Aku juga gak tau mengapa. Pkirku karena dia terlau fokus pada ujiannya test nya, namun hal ini brangsur - angsur sampai dengan sekarang. Aku penasaran. Seingatku, gaya SMSnya ini berubah ketika ia bilang kepadaku, dia sedang jatuh cinta. Ada sedikit perasaan cemburu pada saat itu. Lalu, aku tanyakan, siapakah orang itu? Pertanyaanku menyasar padanya sampai dengan mengerucut kepada angkatanku ketika kami membagi ilmu di acara leadership ketika pertama kali kami bertemu (atau aku aja ya yang ngerasa bertemu dengannya waktu itu?). Dan, sebenarnya siapakah dia? Dan entah karena ini yang terbaik baginya atau aku dalam keadaan cemburu, aku hanya memberikan pesan untuknya. Kira - kira seperti ini "hahahaha.. ^-^ Iya, tapi kalo suka jangan berlebihan aja. Biasa - biasa aja. Kalo bisa jangan pacaran. Di usiamu yang labil ini, setan gampang mempengaruhi. Memang, menahan rasa itu memang susah. Dulu aku juga gitu, sampai sekarang, nahan rasa itu dan tidak mengungkapkan itu butuh perjuangan. Tapi, itulah yang sebenarnya Allah nilai dari kita. Kesabaran." Sejak saat itu, aku mulai merasa gaya smsnya berubah padaku. -_- Ya, dibilang bete sih bete, namun aku begitu mencintainya sekarang ini. Aku cinta dia. Aku cinta dia. Aku cinta dia! Aku CINTA DIA!!!! AKU CINTA DIA!!!! AKU CINTA DIAAAAAAAAAAA!!!!! Aku cinta kamu ****... Gak ada di dunia yang mampu mengungkapkan besarnya cintaku kepadamu. Jika dengan memberikan cincin di jari manismu sudah cukup, akan aku lakukan sepenuh hati. Aku ingin engkau menjadi Pendmping hidupku. Menjadi istri. Menjadi ibu dari anak - anakku. Dan kita nanti hidup bersama mengarungi samudera kehidupan. Saling menguatkan terhadap cobaan yang menguji. Aku cinta kamu ****, dan jikalau kamu tau, aku sedang berjuang. Berjuang untuk menahan rasa ini sampai tiba saatnya aku mengungkapkannya kepadamu. Di pelaminan, yang menyatukan hati kita, yang menyatukan keluarga kita. Berjuang untuk memperoleh surga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Amin.. Hanyalah dia... A**Y
Tidak ada komentar:
Posting Komentar